Setelah Nabi saw wafat, Fathimah tidak pernah tersenyum kecuali satu kali, dan itu tatkala Asma membuatkan untuknya sebuah keranda khusus dan tertutup, sehingga orang-orang tidak dapat melihat tubuhnya. Beliau berjuang keras untuk menegakkan hak suaminya, Ali bin Abi Thalib as.
Selama empat puluh hari dia pergi bersama Ali ke berbagai rumah kaum Muhajirin dan Anshar dan meminta bantuan dan kerjasama mereka seraya berkata, "Bagaimanakah kalian membiarkan warisan Nabi saw dikeluarkan dari rumahnya dan dibawa ke rumah lain?"
Mereka berkata, "Wahai putri Nabi saw, jika suamimu datang lebih dahulu kepada kami sebelum Abu Bakar, maka kami akan berbaiat kepadanya."
Di sinilah Ali berkata kepada mereka, "Patutkah aku tidak memakamkan Nabi saw dan memperebutkan kekuasaan bersama para pesaingku?"
Demi mendukung pernyataan suaminya, Fathimah berkata, "Ali tidak melakukan perbuatan, melainkan itu adalah tugasnya, sedangkan mereka melakukan perbuatan yang akan membangkitkan murka Allah Swt."
Begitu gigih perjuangan Fathimah sehingga anak-anaknya yang masih kecil juga turut menolong dan membantunya, dengan harapan ibu mereka dapat meraih kemenangan. Mereka juga turut menjelaskan kebenaran ke tengah masyarakat dengan memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada.
Tiga bulan setelah wafat Nabi saw, Fathimah terbaring di tempat tidur dan dalam keadaan sakit. Mereka khawatir Fathimah meninggal dunia dalam keadaan tidak rela kepada sebagian sahabat Nabi saw, sehingga hal itu akan memicu terjadinya perseselisihan dan kekacauan di tengah umat Islam. Mereka memutuskan untuk menjenguk Fathimah dan meminta maaf kepadanya.
Dua kali mereka meminta ijin kepada Fathimah untuk dapat bertemu, tetapi dia tidak memberi mengijinkan. Terpaksa mereka meminta tolong kepada Ali agar membujuk Fathimah mengijinkan mereka bertemu dengannya. Tetapi Fathimah juga menggunakan kesempatan ini. Saat kedatangan mereka, dia tidak menjawab salam mereka, dan memalingkan wajah dari mereka.
Dalam pertemuan ini Fathimah tidak menyinggung masalah tanah Fadak, tetapi berusaha membuktikan kesalahan mereka dengan mengatakan, "Demi Allah, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah saw bersada, 'Kerelaan Fathimah adalah kerelaanku, dan kemarahan Fathimah adalah kemarahanku. Barangsiapa yang mencintai putriku Fathimah, maka dia mencintaiku, dan barangsiapa yang membahagiakan Fathimah maka dia membahagiakanku, dan barangsiapa yang membuat marah Fathimah maka dia membuat marah diriku?'"
Mereka membenarkan pernyataan Fathimah dan berkata, "Benar, kami mendengarnya, beliau saw berkata semacam itu." Fathimah mengangkat tangan ke langit dan dengan hati hancur berkata, "Allah dan para malaikat sebagai saksi bahwa kalian telah membuat marah diriku dan tidak membahagiakanku…jika aku berjumpa dengan Nabi saw aku akan mengadukan sikap dan perbuatan kalian terhadap diriku."
Bukti atas perkara ini cukup jelas di mana kerelaan Fathimah semata-mata demi kemenangan hak dan kemarahan Fathimah semata-mata karena kemenangan batil. Benar, mereka membiarkan Fathimah tenggelam dalam sederetan penderitaan berat dan kesedihan yang tidak berakhir, dan mereka sibuk membangun dasar-dasar kekuasaannya. Adakalanya Fathimah berziarah ke pusara ayahnya dan dengan menangis penuh sedih berkata, "Berbagai musibah telah turun mendatangiku secara silih berganti yang jika semua itu diturunkan pada siang yang terang benderang maka akan berubah menjadi malam yang gelap gulita. Setelah kepergianmu, kesedihan dan air mata senantiasa menemaniku, sebagai upaya meringankan berbagai penderitaanku."
Tangisan ini merupakan suatu bentuk perjuangan Fathimah dalam usaha menuntut haknya. Masyarakat Madinah yang merasa terganggu mendengar tangisan Fathimah, memerintahkan Ali agar menghentikan tangisannya. Hal ini membuat Fathimah pergi mengasingkan diri di luar kota Madinah untuk meluapkan tangisan dukanya. Setiap hari dia keluar meninggalkan kota Madinah ditemani kedua putranya, al-Hasan dan al-Husain, lalu duduk menangis di bawah sebuah pohon. Pada petang hari menjelang matahari terbenam, Ali pergi menjemput istrinya dengan penuh sedih dan duka dan membawanya pulang ke rumah.
Mereka juga menebang pohon yang biasa digunakan oleh Fathimah untuk berteduh. Fathimah dan kedua putranya tetap keluar meninggalkan kota Madinah dan duduk bersama di bawah terik matahari untuk melanjutkan perjuangannya dengan diam dan menangis. Di sinilah kemudian Imam Ali membangun sebuah rumah yang dinamakan dengan Baitul Ahzan (Rumah Duka). Ini merupakan suatu bentuk perjuangan orang-orang tertindas di saat mereka tidak mampu melakukan perlawanan dengan kekuatan.
Mereka yang memiliki pengetahuan yang luas dan keimanan yang kuat terhadap kebenaran, pasti merasa amat berat menghadapi berbagai penyimpangan agama yang ada di tengah umat manusia.
Pada hari-hari terakhir dari kehidupannya, karena mengetahui bahwa saat-saat kematiannya telah hampir tiba, dia bangkit dari tempat tidur mengambil air dan memandikan anak-anaknya dan menyuruh mereka pergi berziarah ke makam suci Nabi saw. Anak-anak ini merasa heran atas sikap ibunda mereka ini. Mereka saling bertanya apakah ibu hendak pergi seorang diri ke Baitul Ahzan dan menangis? Hal semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya, apakah dia hendak tinggal di rumah seorang diri dan menangis? Hal itu juga telah dilarang oleh khalifah dan kaki tangannya.
Setelah kepergian anak-anak, dia meminta air dan mandi lalu mengenakan pakaian baru. Kemudian berkata kepada Asma binti Umais yang merasa bangga menjadi pelayan dan perawat Fathimah, "Bentangkan tempat tidurku, telah tiba saat-saat kematian."
Asma binti Umais membentangkan tempat tidur dan Fathimah tidur terbujur, tidak lama kemudian pribadi mulia yang merupakan simbol ketakwaan dan kesucian meninggalkan kehidupan yang fana dan tubuhnya yang kurus dan lemah menjadi dingin dan tidak bernyawa.
Anak-anak datang dan menemui ibunya. Asma memberitahu mereka tentang kematian ibu mereka. Dengan berlinang air mata mereka pergi menuju masjid untuk memberitahukan kepada ayah mereka apa yang telah terjadi. Berita kematian Fathimah menyebar ke seluruh penjuru kota Madinah. Dan masyarakat berduyun-duyun datang ke rumah peninggalan Nabi saw ini dengan berlinang air mata untuk turut serta dalam acara pemakaman jenazah. Tetapi Abu Dzar berdiri di depan pintu rumah dan memberitahu mereka bahwa pemakaman jenazah ditunda. Orang-orang pun membubarkan diri.
Pada malam hari, di mana tirai kegelapan menutupi berbagai penjuru, dan masyarakat yang tidak merasakan kesedihan besar dengan cepat melupakan peristiwa yang tengah terjadi dan tidur dengan pulas. Hanya ada beberapa orang yang merasa berduka yakni Ali anak-anaknya dan beberapa orang sahabat setianya yang tetap terjaga. Dan di kegelapan malam itu pula sesuai dengan wasiat putri Nabi saw, pemakaman pun dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Para pengantar jenazah pulang sedangkan Ali tetap berada di sisi pusara, dan dengan hati hancur karena kehilangan istri dan pendamping mulianya, dia berkata, "Wahai Rasulullah! Salamku dan putrimu yang datang menemuimu, dan dengan cepat bergabung bersamamu. Wahai Rasulullah, kesabaranku dalam menghadapi kehilangan putri pilihanmu amatlah kecil…kini titipan telah dikembalikan dan gadaian telah ditebus. Kesedihanku untuk selamanya dan malam hariku aku lalui dengan terjaga…"
Imam Husain menyaksikan secara langsung kesabaran dan keteguhan hati Imam Ali yang selama 25 tahun menghadapi orang-orang zalim yang telah merampas haknya. Meski pada mulanya Imam Ali melakukan perlawanan demi meraih kembali haknya, tetapi tatkala beliau menghadapi penentangan dari berbagai berbagai penjuru, maka beliau pun menghentikan perlawanan ini demi menjaga keutuhan umat Islam dan melaksanakan pesan Rasulullah saw.
Pada tahun ke-36 Hijriah, dan sepeninggal khalifah ketiga, masyarakat berduyun-duyun mendatangi Imam Ali untuk menyampaikan baiat kepadanya. tetapi Imam Ali menolak permohonan mereka. Alasan kenapa beliau enggan menerima baiat ini adalah dampak dari suasana yang terjadi setelah wafatnya Nabi saw telah menguasai hati dan pikiran rakyat; egoisme dan hawa nafsu untuk kekuasan telah berakar di hati mereka, pikiran mereka telah dipengaruhi materialisme dan mereka telah terbiasa memperlakukan pemerintah sebagai sarana untuk meraih tujuan mereka.
Tetapi ketika masyarakat terus mendesak beliau agar menerima baiat mereka, maka Imam Ali pun bersedia menerima baiat sebagai khalifah dengan syarat beliau akan menjalankan pemerintahan berdasarkan pada al-Quran dan Sunnah Nabi saw.
Imam Ali menjadi khalifah ketika umat Islam berada di bawah pengaruh Bani Umayah. Meskipun Usman telah terbunuh, tetapi Muawiyah dan orang-orang Bani Umayah yang mengelilinginya masih saja menjadi pengendali Syria. Penduduk Syiria tidak tahu sedikit pun tentang Imam Ali dan tokoh lainnya. Ketika Imam Ali menjadi khalifah, mereka seperti orang sakit, tidak mau mendengar dan tidak patuh. Mereka mengurangi kekuasaan Imam Ali dan marah kepadanya. Mereka diam dalam menghadapi kerusakan yang tidak henti-hentinya mengancam bangunan umat Islam. Kepada masyarakat Imam Ali berkata, "Kalian telah merusak pendapatku dengan menentangnya." Penduduk Syiria senang jika Imam Ali mau mengganti jabatan sahabat-sahabatnya dengan salah seorang dari sahabat Muawiyah.
Pada masa lima tahun kekhalifahan ini Imam Ali menghadapi penentangan mereka yang berusaha menjatuhkannya dari kursi kekhalifahan. Tiga peperangan besar yang terjadi pada masa pemerintahan Imam Ali adalah, perang Shiffin (dengan pasukan yang dipimpin Muawiyah), perang Jamal (dengan pasukan yang dipimpin oleh Aisyah) dan perang Nahrawan (dengan orang-orang Khawarij).
Sebelum meninggal dunia, Imam Ali melaksanakan wasiat Rasulullah saw dan menetapkan Imam Hasan sebagai penggantinya. Dalam hal ini, Imam Ali menjadikan seluruh anaknya yang mulia serta para tokoh Syiah sebagai saksi.
Dengan wasiat itu, maka Imam Hasan menerima tanggungjawab kekhalifahan pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Sungguh Imam Hasan adalah orang yang cukup kuat dalam menghadapi persoalan. Keadaan inilah yang menyebabkan ayahnya terbunuh. Setiap orang dapat membayangkan hal itu. Anak para nabi ini mengambil alih kekuasaan tanpa ayahnya.
Ketika berita tentang wafatnya Imam Ali dan pembaiatan Imam Hasan sampai ke telinga Muawiyah, dia menyuruh seorang dari Bani Himyar untuk menyusup ke Kufah dan satu orang dari Bani Qain ke Bashrah, untuk menyampaikan berita kepadanya tentang segala perkembangan dan menjatuhkan kehormatan Imam Hasan.
Imam Hasan mengetahui perbuatan jahat ini. Oleh karena itu beliau memerintahkan agar al-Himyari dipenggal lehernya. Kemudian beliau menulis surat ke Bashrah agar al-Qaini dipenggal lehernya.
Muawiyah terus berusaha melemahkan pasukan Imam Hasan dengan membagi-bagikan hartanya dan melakukan aksi suap. Sehingga banyak dari pasukan Imam Hasan yang membelot dan berpihak pada Muawiyah. Maka tak ada pilihan lain bagi Imam Hasan kecuali menerima damai dengan mengetahui tujuan Bani Umayah, sebagaimana kakeknya menerima damai dari orang-orang musyrik meskipun sebenarnya Rasul mengetahui isi hati mereka. Setelah menerima perjanjian damai ini, Imam Hasan pun kembali ke Madinah.
Imam Husain selalu menyertai saudaranya itu di semua masa-masa sulit yang dihadapinya. Ini lantaran beliau tahu bahwa perdamaian itu demi kebaikan Islam dan kaum Muslim. Oleh karena itu, beliau tidak mengritik sang kakak.
Kekuatan Bani Umayah semakin kuat, dan wilayah Jazirah Arab sudah berada dalam genggamannya. Mereka menakut-nakuti penduduknya dan membunuh tokoh-tokohnya, sampai-sampai tidak ada seorang pun yang mampu menolak dan menghalangi mereka. Muawiyah berusaha untuk membunuh Imam Hasan agar dapat terbebas dari perjanjian. Maka Muawiyah memanggil Ja'dah binti Asy'ats dan menyuapnya dengan uang serta dijanjikan bahwa kelak dia akan dinikahkan dengan putranya, Yazid, serta mendapatkan uang sebesar seratus ribu dirham.
Ternyata Muawiyah mengingkari janjinya untuk menikahkan Ja’dah dengan Yazid dan berkata kepada Ja'dah, "Bagaimana mungkin aku menikahkan putraku dengan seorang wanita yang tega membunuh cucu Nabi."
Selama empat puluh hari dia pergi bersama Ali ke berbagai rumah kaum Muhajirin dan Anshar dan meminta bantuan dan kerjasama mereka seraya berkata, "Bagaimanakah kalian membiarkan warisan Nabi saw dikeluarkan dari rumahnya dan dibawa ke rumah lain?"
Mereka berkata, "Wahai putri Nabi saw, jika suamimu datang lebih dahulu kepada kami sebelum Abu Bakar, maka kami akan berbaiat kepadanya."
Di sinilah Ali berkata kepada mereka, "Patutkah aku tidak memakamkan Nabi saw dan memperebutkan kekuasaan bersama para pesaingku?"
Demi mendukung pernyataan suaminya, Fathimah berkata, "Ali tidak melakukan perbuatan, melainkan itu adalah tugasnya, sedangkan mereka melakukan perbuatan yang akan membangkitkan murka Allah Swt."
Begitu gigih perjuangan Fathimah sehingga anak-anaknya yang masih kecil juga turut menolong dan membantunya, dengan harapan ibu mereka dapat meraih kemenangan. Mereka juga turut menjelaskan kebenaran ke tengah masyarakat dengan memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada.
Tiga bulan setelah wafat Nabi saw, Fathimah terbaring di tempat tidur dan dalam keadaan sakit. Mereka khawatir Fathimah meninggal dunia dalam keadaan tidak rela kepada sebagian sahabat Nabi saw, sehingga hal itu akan memicu terjadinya perseselisihan dan kekacauan di tengah umat Islam. Mereka memutuskan untuk menjenguk Fathimah dan meminta maaf kepadanya.
Dua kali mereka meminta ijin kepada Fathimah untuk dapat bertemu, tetapi dia tidak memberi mengijinkan. Terpaksa mereka meminta tolong kepada Ali agar membujuk Fathimah mengijinkan mereka bertemu dengannya. Tetapi Fathimah juga menggunakan kesempatan ini. Saat kedatangan mereka, dia tidak menjawab salam mereka, dan memalingkan wajah dari mereka.
Dalam pertemuan ini Fathimah tidak menyinggung masalah tanah Fadak, tetapi berusaha membuktikan kesalahan mereka dengan mengatakan, "Demi Allah, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah saw bersada, 'Kerelaan Fathimah adalah kerelaanku, dan kemarahan Fathimah adalah kemarahanku. Barangsiapa yang mencintai putriku Fathimah, maka dia mencintaiku, dan barangsiapa yang membahagiakan Fathimah maka dia membahagiakanku, dan barangsiapa yang membuat marah Fathimah maka dia membuat marah diriku?'"
Mereka membenarkan pernyataan Fathimah dan berkata, "Benar, kami mendengarnya, beliau saw berkata semacam itu." Fathimah mengangkat tangan ke langit dan dengan hati hancur berkata, "Allah dan para malaikat sebagai saksi bahwa kalian telah membuat marah diriku dan tidak membahagiakanku…jika aku berjumpa dengan Nabi saw aku akan mengadukan sikap dan perbuatan kalian terhadap diriku."
Bukti atas perkara ini cukup jelas di mana kerelaan Fathimah semata-mata demi kemenangan hak dan kemarahan Fathimah semata-mata karena kemenangan batil. Benar, mereka membiarkan Fathimah tenggelam dalam sederetan penderitaan berat dan kesedihan yang tidak berakhir, dan mereka sibuk membangun dasar-dasar kekuasaannya. Adakalanya Fathimah berziarah ke pusara ayahnya dan dengan menangis penuh sedih berkata, "Berbagai musibah telah turun mendatangiku secara silih berganti yang jika semua itu diturunkan pada siang yang terang benderang maka akan berubah menjadi malam yang gelap gulita. Setelah kepergianmu, kesedihan dan air mata senantiasa menemaniku, sebagai upaya meringankan berbagai penderitaanku."
Tangisan ini merupakan suatu bentuk perjuangan Fathimah dalam usaha menuntut haknya. Masyarakat Madinah yang merasa terganggu mendengar tangisan Fathimah, memerintahkan Ali agar menghentikan tangisannya. Hal ini membuat Fathimah pergi mengasingkan diri di luar kota Madinah untuk meluapkan tangisan dukanya. Setiap hari dia keluar meninggalkan kota Madinah ditemani kedua putranya, al-Hasan dan al-Husain, lalu duduk menangis di bawah sebuah pohon. Pada petang hari menjelang matahari terbenam, Ali pergi menjemput istrinya dengan penuh sedih dan duka dan membawanya pulang ke rumah.
Mereka juga menebang pohon yang biasa digunakan oleh Fathimah untuk berteduh. Fathimah dan kedua putranya tetap keluar meninggalkan kota Madinah dan duduk bersama di bawah terik matahari untuk melanjutkan perjuangannya dengan diam dan menangis. Di sinilah kemudian Imam Ali membangun sebuah rumah yang dinamakan dengan Baitul Ahzan (Rumah Duka). Ini merupakan suatu bentuk perjuangan orang-orang tertindas di saat mereka tidak mampu melakukan perlawanan dengan kekuatan.
Mereka yang memiliki pengetahuan yang luas dan keimanan yang kuat terhadap kebenaran, pasti merasa amat berat menghadapi berbagai penyimpangan agama yang ada di tengah umat manusia.
Pada hari-hari terakhir dari kehidupannya, karena mengetahui bahwa saat-saat kematiannya telah hampir tiba, dia bangkit dari tempat tidur mengambil air dan memandikan anak-anaknya dan menyuruh mereka pergi berziarah ke makam suci Nabi saw. Anak-anak ini merasa heran atas sikap ibunda mereka ini. Mereka saling bertanya apakah ibu hendak pergi seorang diri ke Baitul Ahzan dan menangis? Hal semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya, apakah dia hendak tinggal di rumah seorang diri dan menangis? Hal itu juga telah dilarang oleh khalifah dan kaki tangannya.
Setelah kepergian anak-anak, dia meminta air dan mandi lalu mengenakan pakaian baru. Kemudian berkata kepada Asma binti Umais yang merasa bangga menjadi pelayan dan perawat Fathimah, "Bentangkan tempat tidurku, telah tiba saat-saat kematian."
Asma binti Umais membentangkan tempat tidur dan Fathimah tidur terbujur, tidak lama kemudian pribadi mulia yang merupakan simbol ketakwaan dan kesucian meninggalkan kehidupan yang fana dan tubuhnya yang kurus dan lemah menjadi dingin dan tidak bernyawa.
Anak-anak datang dan menemui ibunya. Asma memberitahu mereka tentang kematian ibu mereka. Dengan berlinang air mata mereka pergi menuju masjid untuk memberitahukan kepada ayah mereka apa yang telah terjadi. Berita kematian Fathimah menyebar ke seluruh penjuru kota Madinah. Dan masyarakat berduyun-duyun datang ke rumah peninggalan Nabi saw ini dengan berlinang air mata untuk turut serta dalam acara pemakaman jenazah. Tetapi Abu Dzar berdiri di depan pintu rumah dan memberitahu mereka bahwa pemakaman jenazah ditunda. Orang-orang pun membubarkan diri.
Pada malam hari, di mana tirai kegelapan menutupi berbagai penjuru, dan masyarakat yang tidak merasakan kesedihan besar dengan cepat melupakan peristiwa yang tengah terjadi dan tidur dengan pulas. Hanya ada beberapa orang yang merasa berduka yakni Ali anak-anaknya dan beberapa orang sahabat setianya yang tetap terjaga. Dan di kegelapan malam itu pula sesuai dengan wasiat putri Nabi saw, pemakaman pun dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Para pengantar jenazah pulang sedangkan Ali tetap berada di sisi pusara, dan dengan hati hancur karena kehilangan istri dan pendamping mulianya, dia berkata, "Wahai Rasulullah! Salamku dan putrimu yang datang menemuimu, dan dengan cepat bergabung bersamamu. Wahai Rasulullah, kesabaranku dalam menghadapi kehilangan putri pilihanmu amatlah kecil…kini titipan telah dikembalikan dan gadaian telah ditebus. Kesedihanku untuk selamanya dan malam hariku aku lalui dengan terjaga…"
Imam Husain menyaksikan secara langsung kesabaran dan keteguhan hati Imam Ali yang selama 25 tahun menghadapi orang-orang zalim yang telah merampas haknya. Meski pada mulanya Imam Ali melakukan perlawanan demi meraih kembali haknya, tetapi tatkala beliau menghadapi penentangan dari berbagai berbagai penjuru, maka beliau pun menghentikan perlawanan ini demi menjaga keutuhan umat Islam dan melaksanakan pesan Rasulullah saw.
Pada tahun ke-36 Hijriah, dan sepeninggal khalifah ketiga, masyarakat berduyun-duyun mendatangi Imam Ali untuk menyampaikan baiat kepadanya. tetapi Imam Ali menolak permohonan mereka. Alasan kenapa beliau enggan menerima baiat ini adalah dampak dari suasana yang terjadi setelah wafatnya Nabi saw telah menguasai hati dan pikiran rakyat; egoisme dan hawa nafsu untuk kekuasan telah berakar di hati mereka, pikiran mereka telah dipengaruhi materialisme dan mereka telah terbiasa memperlakukan pemerintah sebagai sarana untuk meraih tujuan mereka.
Tetapi ketika masyarakat terus mendesak beliau agar menerima baiat mereka, maka Imam Ali pun bersedia menerima baiat sebagai khalifah dengan syarat beliau akan menjalankan pemerintahan berdasarkan pada al-Quran dan Sunnah Nabi saw.
Imam Ali menjadi khalifah ketika umat Islam berada di bawah pengaruh Bani Umayah. Meskipun Usman telah terbunuh, tetapi Muawiyah dan orang-orang Bani Umayah yang mengelilinginya masih saja menjadi pengendali Syria. Penduduk Syiria tidak tahu sedikit pun tentang Imam Ali dan tokoh lainnya. Ketika Imam Ali menjadi khalifah, mereka seperti orang sakit, tidak mau mendengar dan tidak patuh. Mereka mengurangi kekuasaan Imam Ali dan marah kepadanya. Mereka diam dalam menghadapi kerusakan yang tidak henti-hentinya mengancam bangunan umat Islam. Kepada masyarakat Imam Ali berkata, "Kalian telah merusak pendapatku dengan menentangnya." Penduduk Syiria senang jika Imam Ali mau mengganti jabatan sahabat-sahabatnya dengan salah seorang dari sahabat Muawiyah.
Pada masa lima tahun kekhalifahan ini Imam Ali menghadapi penentangan mereka yang berusaha menjatuhkannya dari kursi kekhalifahan. Tiga peperangan besar yang terjadi pada masa pemerintahan Imam Ali adalah, perang Shiffin (dengan pasukan yang dipimpin Muawiyah), perang Jamal (dengan pasukan yang dipimpin oleh Aisyah) dan perang Nahrawan (dengan orang-orang Khawarij).
Sebelum meninggal dunia, Imam Ali melaksanakan wasiat Rasulullah saw dan menetapkan Imam Hasan sebagai penggantinya. Dalam hal ini, Imam Ali menjadikan seluruh anaknya yang mulia serta para tokoh Syiah sebagai saksi.
Dengan wasiat itu, maka Imam Hasan menerima tanggungjawab kekhalifahan pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Sungguh Imam Hasan adalah orang yang cukup kuat dalam menghadapi persoalan. Keadaan inilah yang menyebabkan ayahnya terbunuh. Setiap orang dapat membayangkan hal itu. Anak para nabi ini mengambil alih kekuasaan tanpa ayahnya.
Ketika berita tentang wafatnya Imam Ali dan pembaiatan Imam Hasan sampai ke telinga Muawiyah, dia menyuruh seorang dari Bani Himyar untuk menyusup ke Kufah dan satu orang dari Bani Qain ke Bashrah, untuk menyampaikan berita kepadanya tentang segala perkembangan dan menjatuhkan kehormatan Imam Hasan.
Imam Hasan mengetahui perbuatan jahat ini. Oleh karena itu beliau memerintahkan agar al-Himyari dipenggal lehernya. Kemudian beliau menulis surat ke Bashrah agar al-Qaini dipenggal lehernya.
Muawiyah terus berusaha melemahkan pasukan Imam Hasan dengan membagi-bagikan hartanya dan melakukan aksi suap. Sehingga banyak dari pasukan Imam Hasan yang membelot dan berpihak pada Muawiyah. Maka tak ada pilihan lain bagi Imam Hasan kecuali menerima damai dengan mengetahui tujuan Bani Umayah, sebagaimana kakeknya menerima damai dari orang-orang musyrik meskipun sebenarnya Rasul mengetahui isi hati mereka. Setelah menerima perjanjian damai ini, Imam Hasan pun kembali ke Madinah.
Imam Husain selalu menyertai saudaranya itu di semua masa-masa sulit yang dihadapinya. Ini lantaran beliau tahu bahwa perdamaian itu demi kebaikan Islam dan kaum Muslim. Oleh karena itu, beliau tidak mengritik sang kakak.
Kekuatan Bani Umayah semakin kuat, dan wilayah Jazirah Arab sudah berada dalam genggamannya. Mereka menakut-nakuti penduduknya dan membunuh tokoh-tokohnya, sampai-sampai tidak ada seorang pun yang mampu menolak dan menghalangi mereka. Muawiyah berusaha untuk membunuh Imam Hasan agar dapat terbebas dari perjanjian. Maka Muawiyah memanggil Ja'dah binti Asy'ats dan menyuapnya dengan uang serta dijanjikan bahwa kelak dia akan dinikahkan dengan putranya, Yazid, serta mendapatkan uang sebesar seratus ribu dirham.
Ternyata Muawiyah mengingkari janjinya untuk menikahkan Ja’dah dengan Yazid dan berkata kepada Ja'dah, "Bagaimana mungkin aku menikahkan putraku dengan seorang wanita yang tega membunuh cucu Nabi."
ConversionConversion EmoticonEmoticon