KISAH PENDERITA KANKER
Pelajaran Berharga dari para Pemberani
Sabtu, 8 Februari 2014
Pelajaran Berharga dari para Pemberani
Sabtu, 8 Februari 2014
Judul : Kami Berani Melawan Kanker
Penulis : Priska Siagian
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi : GM 20301140001
Isi : 178 Halaman
Kategori : Buku Kesehatan
PARA penderita kanker di seluruh Indonesia yang saat ini sedang menjalani penanganan medis sebagai upaya memperoleh kesembuhan, bersabar, dan tetaplah optimis. Sebab, kanker tidak cukup pantas untuk merampas keimanan seseorang kepada Sang Maha Pencinta. Palu vonis kanker hati, payudara, serviks, paru-paru, getah bening, prostat, usus besar, dan lidah, ternyata tidak membuat seseorang menyerah, pasrah menunggu ajal.
Buku "Kami Berani Melawan Kanker", karya penulis muda Priska Siagian, menampilkan 10 kisah nyata yang sangat inspiratif dari para pemberani yang berhasil melawan kanker, pantas menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi para pesien kanker dan masyarakat luas. Mengapa? Dalam buku ini mengungkapkan emosi, energi, dan perjuangan tanpa kenal lelah dari 10 survivor (orang yang mampu survive) yakni para penderita kanker yang oleh dokter telah divonis hidupnya tidak lama lagi. Namun setelah memenangkan perjuangan luar biasa berat, mereka sehat bugar dan bahagia seperti manusia sehat lainnya. Ke-10 survivor luar biasa itu yakni Sri Suryani (78), Hardi Mustakim Tjiong (69), Fachrutdin Tjoe (67), Yitno Sugianto (63), Indra Prasetya, Mary Laurensia (45), Tan Hong Som, Ya-na Sari Putri Sihombing (35), dan Affra Siowardjaja (58). Sri, penderita kanker ovarium stadium 3 yang menjalani penanganan medis selama lebih kurang satu bulan di Fuda Cencer Hospital di kota Guangzhou, China sembuh total. Sel kanker sudah tidak ada di tubuhnya. Sri Suryani, ingin berbagi semangatnya berjuang meraih kesembuhan kepada pesien kanker di mana pun. "Kanker tidak bisa ditolak ketika terlanjur ada di tubuh kita,tapi bisa dikalahkan," kata Sri. Yang pantas diacungin jempol dari kisah Sri, adalah seorang diri saat awal berjuang melawan kanker, ia harus mengurus segala sesuatunya untuk pergi berobat ke Fuda Cancer Hospital Jinan University di kota Guangzhou, China. Survivor berikutnya adalah Yana Sari Putri Sihombing, ibu dua anak, kelahiran 4 Januari 1979 ini. Diagnosa dokter terjangkit kanker getah bening atau limpoma, pada usianya yang relatif muda (30 tahun), tidak seseram bayangannya. "Cukup bilang ke kankernya,ngapain lo ganggu-ganggu tubuh gue? Maka dengan sendirinyatubuh kita menjadi lebih semangat dan berani melawan penyakit ini," ujar Yana memaparkan trik menyemangati dirinya agar terlepas dari sengkraman kanker. Pejuang hebat melawan kanker lainnya yakni seorang Ketua RW 08 Gading Kirana, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Yitno Sugianto. Ia mengindap empat kanker sekaligus (kanker paru, kantong jantung, getah bening, dan tulang iga) stadium 4. Berobat ke Fuda Cancer Hospital menemukan kecocokan, kini kondisi kesehatannya bugar, meski sampai hari ini masih berjuang melawan kanker. Direktur Perwakilan Fuda Cancer Hospital Jakarta Dr Liu Zhengping saat peluncuran buku ini di Toko Buku Gramedia, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (4/2) mengatakan, sesungguhnya setiap orang memiliki risiko terkena kanker. "Namun penyakit ini dapat dicegah dengan menjalani perilaku hidup sehat, menghindari asap rokok, zat kimia, alkohol, dan memilih dengan teliti makanan yang akan dikonsumsi," ujarnya Dr Liu. Humas Fuda Cancer Hospital Fanny Surjono menambahkan, di Indonesia prevalensi kasus kematian akibat kanker dari waktu ke waktu terus bertambah. "Tahun 2012 dan 2013 kasus kematian akibat kanker mencapai 800-1 juta orang," ucap Fanny. Priska Siagian mengatakan, dua hal yang membuat ke 10 survivor kanker pulang ke Indonesia sebagai pemenang yakni semangat hidup dan penanganan medis yang terbaik. Menurut dia, para pesien kanker yang menjalani tindakan medis di Fuda Cancer Hospital memperoleh penanganan yang konperhensif dan inovatif. Sejak 31 Januari 2014, Buku Kami Berani Melawan Kanker telah beredar di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. "Pada edisi pertama dicetak sebanyak 5.000 buah dengan harga Rp 45.000," kata Priska yang mantan wartawan ini. (Yon Parjiyono)
ConversionConversion EmoticonEmoticon