Insan kamil ialah manusia yang sempurna
dari segi wujud dan pengetahuannya. Kesempurnaan dari segi wujudnya ialah
karena dia merupakan manifestasi sempurna dari citra Tuhan, yang pada dirinya
tercermin nama-nama dan sifat Tuhan secara utuh. Adapun kesempurnaan dari segi
pengetahuannya ialah karena dia telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi,
yakni menyadari kesatuan esensinya dengan Tuhan, yang disebut makrifat.[2]
Ibn Arabi memandang insan kamil sebagai
wadah tajalli Tuhan yang paripurna. Pandangan demikian didasarkan
pada asumsi, bahwa segenap wujud hanya mempunyai satu realitas. Realitas
tunggal itu adalah wujud mutlak yang bebas dari segenap pemikiran, hubungan,
arah dan waktu. Ia adalah esensi murni, tidak bernama, tidak bersifat dan tidak
mempunyai relasi dengan sesuatu.[3]
Kemudian, wujud mutlak itu ber-tajalli secara
sempurna pada alam semesta yang serba ganda ini. Tajalli tersebut terjadi bersamaan dengan penciptaan alam yang
dilakukan oleh Tuhan dengan kodrat-Nya dari tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo).[4]
Bagi para sufi, alam dunia adalah cermin
dan sifat-sifat Tuhan dan nama-nama indah-Nya (al-asmā’ al-husnā). Masing-masing tingkat eksistensi yaitu mineral,
tumbuhan dan hewan dipandang mencerminkan sifat-sifat tertentu Tuhan. Di
tingkat mineral, misalnya, keindahan Tuhan tercermin sampai batas tertentu,
dalam batu-batuan atau logam mulia. Demikian juga dalam dunia tumbuh-tumbuhan
ribuan jenis bunga-bunga dengan aneka warnanya yang unik dan serasi tidak
henti-hentinya mengilhami para penyair dengan inspirasi yang sangat
mengesankan. Begitu pula, pesona yang diberikan oleh berbagai jenis hewan yang
sangat beraneka bentuk dan posturnya. Tetapi dari semua makhluk yang ada di
alam dunia, tidak ada yang bisa mencerminkan sifat-sifat Tuhan secara begitu
lengkap kecuali manusia. Ini karena manusia sebagai mikrokosmos yang terkandung
di dalamnya seluruh unsur kosmik, bisa mencerminkan seluruh sifat Ilahi dengan
sempurna, ketika ia telah mencapai tingkat kesempurnaannya, yang disebut insan
kamil, manusia sempurna, atau manusia universal.[5]
Kesempurnaan insan kamil itu pada
dasarnya disebabkan karena pada dirinya Tuhan ber-tajalli secara
sempurna melalui hakikat Muhammad (al-haqiqah al-Muhammadiyah). Hakikat Muhammad (nur Muhammad) merupakan wadah tajalliTuhan yang sempurna dan merupakan makhluk yang paling pertama
diciptakan oleh Tuhan.[6]
Jadi, dari satu sisi, insan kamil
merupakan wadah tajalli Tuhan yang paripurna, sementara disisi lain, ia
merupakan miniatur dari segenap jagad raya, karena pada dirinya terproyeksi
segenap realitas individual dari alam semesta, baik alam fisika maupun
metafisika. Hati insan kamil berpadanan dengan arasy Tuhan, “ke-Aku-an”nya
sepadan dengan kursi Tuhan, peringkat rohaninya dengan sidratul muntaha,
akalnya dengan pena yang tinggi, jiwanya dengan lauh mahfūz, tabiatnya dengan elemen-elemen, kemampuannya dengan hayūla, tubuhnya dengan habā’ dan
lain-lain.[7]
Bani Adam secara potensial adalah insan
kamil, meski hanya di kalangan para nabi dan wali saja potensi itu menjadi
aktual. Alquran surat al-Isra’: 70 menjelaskan
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْ اَدَمَ وَحَمَلْنَهُمْ فِى الْبََرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَهُمْ مِنَ الطَّيِّبَتِ وَفَضَّلْنَهُمْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلاً
Artinya:
“Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami
angkut merekat di daratan dan lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik
dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk
yang telah Kami ciptakan.” (Qs. al-Isra’: 70).[8]
Al-Jili membagi insan kamil atas tiga
tingkatan. Tingkat pertama disebutnya sebagai tingkat permulaan (al-bidāyah). Pada tingkat ini insan kamil mulai dapat
merealisasikan asma dan sifat-sifat Ilahi pada dirinya. Tingkat kedua adalah
tingkat menengah (at-tawasut). Pada
tingkat ini insan kamil sebagai orbit kehalusan sifat kemanusiaan yang terkait
dengan realitas kasih Tuhan (al-haqāiq
ar-rahmāniyah). Sementara itu, pengetahuan yang
dimiliki oleh insan kamil pada tingkat ini juga telah meningkat dari
pengetahuan biasa, karena sebagian dari hal-hal yang gaib telah dibukakan Tuhan
kepadanya. Tingkat ketiga ialah tingkat terakhir (al-khitām). Pada tingkat ini insan kamil telah dapat
merealisasikan citra Tuhan secara utuh. Di samping itu, ia pun telah dapat
mengetahui rincian dari rahasia penciptaan takdir. Dengan demikian pada insan
kamil sering terjadi hal-hal yang luar biasa.[9]
Akan tetapi, insan kamil yang muncul
dalam setiap zaman, semenjak Adam a.s. tidak dapat mencapai peringkat
tertinggi, kecuali Nabi Muhammad saw. Alquran surat al-Ahzāb : 21 menjelaskan
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كاَنَ يَرْجُوااللهَ وَالْيَوْمَ الاَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
Artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs.
al-Ahzāb: 21).[10]
Jadi setiap manusia secara potensial
merupakan citra Tuhan, pada insan kamil potensi itu menjadi aktual, karena pada
dirinya termanifestasi nama-nama dan sifat Tuhan. Tetapi citra itu belum
sempurna sampai ia menyadari kesatuan esensialnya dengan Tuhan. Setiap insan
kamil adalah sufi, karena kesadaran seperti itu hanya bisa diperoleh di dalam
tasawuf.
Proses
Munculnya Insan Kamil
Munculnya insan kamil dapat ditelusuri
melalui dua sisi. Pertama melalui tahap-tahaptajalli Tuhan pada alam sampai
munculnya insan kamil. Kedua melalui maqamat(peringkat-peringkat
kerohanian) yang dicapai oleh seseorang sampai pada kesadaran tertinggi yang
terdapat pada insan kamil.
Tajalli Tuhan
– dalam pandangan Ibn Arabi – mengambil dua bentuk: pertama tajalligaib atau tajalli żāti yang berbentuk penciptaan potensi, dan kedua tajalli syuhūdi(penampakan diri secara nyata), yang mengambil bentuk
pertama, secara intrinsik hanya terjadi di dalam esensi Tuhan tersendiri. Oleh
karena itu, wujudnya tidak berbeda dengan esensi Tuhan itu sendiri karena ia
tidak lebih dari suatu proses ilmu Tuhan di dalam esensi-Nya sendiri, sedangkan tajalli dalam bentuk kedua ialah ketika potensi-potensi
yang ada di dalam esensi mengambil bentuk aktual dalam berbagai fenomena alam
semesta.[11]
Tajalli
żāti, menurut Ibn Arabi, terdiri dari dua martabat: pertama
martabat ahadiyah dan kedua martabat wahīdiyah. Pada martabat ahadiyah, Tuhan
merupakan wujud tunggal lagi mutlak, yang belum dihubungkan dengan kualitas
(sifat) apapun, sehingga ia belum dikenal oleh siapapun. Esensi Tuhan pada
peringkat ini, begitu kata Ibn Arabi, hanya merupakan totalitas dari potensi (quwwah) yang
berada dalam kabut tipis (al-‘amā’) yakni awan tipis yang membatasi “langit” ahadiyah
dan “bumi” keserbagandaan makhluk, yang identik dengan nafs ar-Rahmān (nafas Tuhan yang Maha Pengasih).[12]
Wujud Tuhan dalam martabat ahadiyah
masih terlepas dari segala kualitas dan pluralitas apapun: tidak terkait dengan
sifat, nama, rupa (rasm), ruang,
waktu, syarat, sebab dan sebagainya. Ia betul-betul transenden atas
segala-galanya. Di dalam transendensi-Nya itu, ia ingin dikenal oleh yang
selain dari diri-Nya, maka diciptakan-Nya makhluk. Dari martabat ahadiyah tajalli Tuhan akan berlanjut pada martabat-martabat di
bawahnya sampai pada martabat dimana Tuhan dapat dikenal oleh makhluk.[13]
Pada martabat wahidiyah Tuhan memanifestasikan
diri-Nya secara ilahiah yang unik di luar batas ruang dan waktu dalam citra
sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat tersebut terjelma dalam asma Tuhan. Sifat-sifat
dan asma itu merupakan satu kesatuan dengan hakikat alam semesta yang berupa
entitas-entitas laten (‘a’yān
sābitah). Bila sifat-sifat dan nama-nama itu
dipandang dari aspek ketuhanan, ia disebut asma’ ilāhiyah (nama-nama ketuhanan), bila dipandang dari aspek
kealaman (makhluk), ia disebut asma’
kiyāniyah (nama-nama kealaman). Aspek kedua, meski
dipandang satu dengan aspek pertama, ia juga merupakan tajalli dari aspek pertama, karena pada asma’ kiyāniyahitu asma Tuhan mengambil bentuk entitas (‘ain). Oleh
karena itu, setiap kali asma ilahi muncul, ia senantiasa berpasangan dengan asma’ kiyāniyah sebagai wadahtajalli-nya.[14] Ibn
Arabi menjelaskan
فَلَمَّا اَرَادَ وُجُوْدَالْعَالَمِ انْفَعَلَ عَنْ تِلْكَ الاِرَادَةِ الْمُقَدَّسَةِ حَقِيْقَةٌ تُسَمَّى الْهَبَاءُ ثُمَّ اِنَّهُ سُبْحَانَهُ تَجَلَّى بِنُوْرِهِ اِلَى ذَلِكَ الْهَبَاءِ وَيُسَمُّوْنَهُ اَصْحَابُ الاَفْكَارِ الْهَيُوْلىَ الْكُلَّ وَالْعَالَمُ كُلُّهُ فِيْهِ بِالْقُوَّةِ وَالصَّلاَحِيَّةِ فَقَبِلَ مِنْهُ تَعَالَى كُلُّ شَيْئٍ فِى ذَلِكَ الْهَبَاءِ عَلَى حَسْبِ قُوَّتِهِ وَاسْتِعْدَادِهِ كَمَا تَقْبِلُ زَوَايَاالْبَيْتِ نُوْرَا لسِّرَاجِ وَعَلَى قَدْرِ قُرْبِهِ مِنْ ذَلِكَ النُّوْرِ يَسْتَدُّ ضَوْءُهُ وَقَبُوْلُهُ فَلَمْ يَكُنْ اَقْرَبُ اِلَيْهِ قُبُوْلاً فِى ذَلِكَ الْهَبَاءِ اِلاَّ حَقِيْقَةٌ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ وُجُوْدُهُ مِنْ ذَلِكَ النُّوْرِ الاِلَهِيِّ وَمِنَ الْهَبَاءِ وَمِنَ الْحَقِيْقَةِ الُكُلِّيَّةِ
“Tatkala
(Allah) menghendaki adanya alam terjadilah dari iradat suci itu suatu hakikat
yang disebut habâ’ (materi prima). Kemudian Allah subhanahu ber-tajalli dengan
nur-Nya pada habâ’ itu, yang oleh ahli pikir disebut al-hayûla al-kull (materi
universal), yang alam semesta ini secara potensial dan serasi berada di
dalamnya. Segala sesuatu dalam habâ’ itu menerima (nur) Allah menurut potensi
dan kesediaannya masing-masing, seperti sudut-sudut sebuah rumah menerima sinar
lampu, yang lebih dekat kepada nur itu lebih terang dan lebih banyak
menerimanya. Tiada yang lebih banyak menerimanya di dalam habâ’ itu daripada
hakikat Muhammad s.a.w., yang wujudnya dari nur ilahi itu, dari habâ’ dan dari
realitas universal.”[15]
Adapun yang pertama kali muncul pada tajalli syuhudi ialah al-jism
al-kulli (jasad universal) sebagai penampakan
lahir dari nama Tuhan az-Zāhir (Yang Maha Nyata). Kemudian “jasad universal”
tersebut mengambil bentuk asy-syakl
al-kulli (bentuk universal) sebagai efek dari tajalli Tuhan dengan nama-Nya al-Hakīm (Yang Maha Bijaksana). Selanjutnya Tuhan dengan
nama-Nya al-Muhīth (Yang Maha Melingkupi),asy-Syakūr (Yang
Maha Melipatgandakan pahala), al-Gāni (Yang Maha Kaya) dan Al-Muqtadir (Yang Maha Memberi Kekuasaan) masing-masing menampakkan
diri pada arasy (singgasana) Tuhan, kursi, falak al-būrūj (falak bintang-bintang), dan falak al-manāzil (falak berorbit). Setelah falak al-manāzil, secara berturut-turut muncul langit pertama hingga
langit keenam dan langit dunia. Kemudian muncul pula eter, api, udara, air,
tanah, mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, malaikat, jin, manusia dan insan kamil.
Masing-masing merupakan tajalli dari nama-nama Tuhan: ar-Rabb (Yang Maha Mengatur), al-Alīm (Yang
Maha Mengetahui), al-Qāhir (Yang Maha Perkasa), an-Nūr (yang bersinar), al-Musawwir (yang membentuk rupa), al-Muhsī (yang mencatat),al-matīn (Yang Maha Kokoh), al-Qābid (yang membatasi), al-Hayy (Yang Maha Hidup),al –Muhyī (Yang Menghidupkan), al-Mumīt (Yang Mematikan), al-Azīz
(Yang Maha Mulia), ar-Razzāq (Yang Memberi rezki), al-Mużill (Yang Menghina), al-Qawī (Yang Maha Kuat), al-Latīf (Yang Maha Halus), al-Jāmi’ (Yang Menghimpunkan), Rāfi’ ad-Darajāt (Yang Maha tinggi derajatnya). Pada peringkat insan
kamil itu sempurnalahtajalli Tuhan pada makhluk, karena pada insan kamil telah
termanifestasi segenap sifat dan asma-Nya.[16]
Dari pembahasan di atas kelihatan bahwa
hubungan antara tajalli bentuk pertama dan yang sesudahnya merupakan suatu
bentuk peralihan dari sesuatu yang potensial kepada yang aktual dan ini terjadi
secara abadi, karena tajalli
ilahi tidak pernah berhenti pada suatu batas
perhentian. Tujuannya ialah agar Tuhan dapat dikenal lewat nama-nama dan
sifat-sifat-Nya pada alam semesta. Akan tetapi alam semesta ini berada dalam
wujud yang terpecah-pecah, sehingga tidak dapat menampung citra Tuhan secara
utuh, hanya pada manusia citra Tuhan dapat tergambar secara sempurna, yaitu
pada insan kamil. Martabat insan kamil ini baru dapat dicapai setelah melalui
beberapa maqâm (tingkat-tingkat kerohanian, jamaknya: maqāmāt). Dalam perjalanan melalui tingkat-tingkat kerohanian
itu sufi akan mengalami beberapa keadaan batin (hāl, jamaknya: ahwāl).[17]
Maqāmāt adalah
tahap-tahap perjalanan spiritual yang dengan gigih diusahakan oleh para sufi
untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan
spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu, termasuk ego
manusia yang dipandang berhala terbesar dan karena itu kendala menuju Tuhan.
Kerasnya perjuangan spiritual ini misalnya dapat dilihat dari kenyataan bahwa
seorang sufi kadang memerlukan waktu puluhan tahun hanya untuk bergeser dari
satu stasiun ke stasiun lainnya. Sedangkan “ahwāl” sering diperoleh
secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Di antara ahwāl yang sering disebut adalah takut, syukur, rendah hati,
takwa, ikhlas, gembira. Meskipun ada perdebatan di antara para penulis tasawuf,
namun kebanyakan mereka mengatakan bahwa ahwāldialami
secara spontan, berlangsung sebentar dan diperoleh tidak berdasarkan usaha
sadar dan perjuangan keras seperti halnya maqāmāt,
melainkan sebagai hadiah berupa kilatan-kilatan ilahi (Divine Flashes), yang
biasa disebut “lama’at.”[18]
قال بروى احمد طبانه فى مقدمة احياء علوم الدين للغزالى : (ربع المنجيات) فى ابواب الخوف والرجاء والصبر والشكر والفقر والزهد والتوحيد والتوكل والمحبة والشوق والانس والرضا
Barwa
Ahmad Tabanah berkata dalam Muqadimah Ihyā’ Ulumudin karya al-Ghazali:
“Seperempat bagian yang menyelamatkan (maqāmāt) dalam bab khauf (takut), rajā’
(berharap), sabar, syukur, kefakiran, zuhud, tauhid, tawakal, cinta, rindu,
mesra, dan rida.[19]
Al-Kalabadzi menyebutkan 10 maqāmāt yaitu: tobat, zuhud, sabar, kefakiran, rendah hati,
tawakal, rida, cinta dan makrifat.[20] Tahap-tahap
puncak yang dicapai oleh sufi dalam perjalanan spiritualnya itu ialah ketika ia
mencapai maqām
makrifat danmahabbah.
Makrifat dimulai dengan mengenal dan menyadari jati diri. Dengan mengenal dan
menyadari jati diri, niscaya sufi akan kenal dan sadar terhadap Tuhannya.
Kesadaran akan eksistensi Tuhan berarti mengenal Tuhan sebagai wujud hakiki
yang mutlak, sedangkan wujud yang selain-Nya adalah wujud bayangan yang
bersifat nisbi. Wujud bayangan, sebenarnya hanya image belaka, sehingga yang
benar-benar ada ialah wujud Tuhan.[21]
Setelah menempuh segala maqām sampailah sufi kepada keadaan fanā’ dan baqā’. Dalam keadaan demikian, insan kembali kepada wujud
asalnya, yakni wujud mutlak.Fanā’ adalah sirnanya kesadaran manusia terhadap segala alam
fenomena, dan bahkan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Tuhan (fanā’ ‘an sifāt al-haqq), sehingga
yang betul-betul ada secara hakiki dan abadi (baqā’)
di dalam kesadarannya ialah wujud mutlak. Untuk sampai kepada keadaan demikian,
sufi secara gradual, harus menempuh enam tingkat fanā’ yang
mendahuluinya, yaitu:
1. Fanā’ ‘an al-Mukhālafāt (sirna dari segala dosa). Pada tahap ini sufi
memandang bahwa semua tindakan yang bertentangan dengan kaidah moral sebenarnya
berasal dari Tuhan juga. Dengan demikian, ia mulai mengarah kepada wujud
tunggal yang menjadi sumber segala-galanya. Dalam tahap ini sufi berada dalam hadrah an-nūr al-mahd (hadirat cahaya murni). Jika seseorang masih memandang
tindakannya sebagai miliknya yang hakiki, ini menandakan ia masih berada pada hadrah az-zulmah al-mahd (hadirat kegelapan murni).
2. Fanā’ ‘an af’āl al-‘ibād (sirna dari tindakan-tindakan hamba). Pada tahap sufi
menyadari bahwa segala tindakan manusia pada hakikatnya dikendalikan oleh Tuhan
dari balik tabir alam semesta. Dengan demikian sufi menyadari adanya “satu agen
mutlak” dalam alam ini, yakni Tuhan.
3. Fanā’ ‘an sifāt al-makhlūqīn (sirna dari sifat-sifat makhluk). Pada tahap ini sufi
menyadari bahwa segala atribut dan kualitas wujud mumkin (contingent) tidak lain adalah milik Allah. Dengan demikian, sufi
menghayati segala sesuatu dengan kesadaran ketuhanan, ia melihat dengan
penglihatan Tuhan, mendengar dengan pendengaran Tuhan, dan seterusnya.
4. Fanā’ ‘an kull az-zāt (sirna dari personalitas diri). Pada tahap ini sufi
menyadari non-eksistensi dirinya, sehingga yang benar-benar ada di balik
dirinya ialah zat yang tidak bisa sirna selama-lamanya.
5. Fanā’ ‘an kull al-‘alam (sirna dari segenap alam). Pada tahap ini sufi
menyadari bahwa segenap aspek alam fenomenal ini pada hakikatnya hanya khayal,
yang benar-benar ada hanya realitas yang mendasari fenomena.
6. Fanā’ ‘an kull mā siwā
‘l-lāh (sirna dari segala sesuatu yang selain Allah).
Pada tahap ini sufi menyadari bahwa zat yang betul-betul ada hanya zat Allah.[22]
Ketika sufi mencapai fanā’ tahap keenam ia menyadari bahwa yang benar-benar ada
adalah wujud mutlak yang mujarrad dari segenap kualitas nama dan sifat seperti permulaan
keberadaan-Nya. Inilah perjalanan panjang sufi menuju ke asal. Kesadaran puncak
mistis seperti inilah yang dicapai insan kamil.
Kedudukan
Insan Kamil
Insan kamil jika dilihat dari segi fisik
biologisnya tidak berbeda dengan manusia lainnya. Namun dari segi mental
spiritual ia memiliki kualitas-kualitas yang jauh lebih tinggi dan sempurna
dibanding manusia lain. Karena kualitas dan kesempurnaan itulah Tuhan
menjadikan insan kamil sebagai khalifah-Nya. Yang dimaksud dengan khalifah
bukan semata-mata jabatan pemerintahan lahir dalam suatu wilayah negara (al-khilāfah az-zāhiriyyah) tetapi
lebih dikhususkan pada khalifah sebagai wakil Allah (al-khilāfah al-ma’nawiyyah) dengan
manifestasi nama-nama dan sifat-Nya sehingga kenyataan adanya Tuhan terlihat
padanya.
Dalam pandangan Ibn ‘Arabi, kedua
bentuk khalifah diatas sama-sama mempunyai urgensi dalam eternalisasi
eksistensi alam semesta. Namun demikian, khilāfah ma’nawiyyah menempati posisi paling asasi. Di satu sisi, ia
merupakan fokus kesadaran diri Tuhan, sementara disisi lain, ia merupakan sebab
muncul dan lestarinya alam semesta. Posisi demikian berlainan dengan khilāfah zāhiriyyah, yang fungsinya tidak lebih dari melestarikan
masyarakat dan negara, dengan menciptakan keadilan, ketentraman, dan kemakmuran
dalam masyarakat. Dengan demikian, tugaskhilāfah zāhiriyyah ini merupakan penunjang tugas khilāfah ma’nawiyyah. Ini bukan berarti khilāfah zāhiriyyah tersebut dapat diabaikan, karena tanpa dia niscaya
akan terjadi kegoncangan pada khilāfah
ma’nawiyyah.[23]
Kedudukan khalifah pertama kali
ditempati oleh Adam a.s. karena pada dirinya termanifestasi nama-nama dan sifat
Tuhan. Bahkan jabatan yang diduduki oleh Adam a.s. itu (sebenarnya) tidak
terlepas dari rekayasa Tuhan, seperti disebutkan dalam Alquran surat
al-Baqarah: 30.
وَاِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى اْلاَرْضِ خَلِيْفَةًً قلى قاَلُوْا اَتَجْعَل فِيْهَا مَنْ يُفْسِدَ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءِ ج وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَقلى قَالَ اِنِّيْ اَعْلَمُ مَالاَ تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: “Sesunggguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka
berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? “Tuhan berfirman:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. al- Baqarah: 30).[24]
Jadi, keunggulan Adam a.s. yang
menyebabkan ia diangkat oleh Tuhan sebagai khalifah di sini bukan karena
kesalehannya, tetapi karena dirinya dapat memanifestasikan asma dan sifat-sifat
Tuhan. Diakui bahwa malaikat adalah makhluk Tuhan yang senantiasa berada dalam
kesalehan, tetapi ia tidak dapat menyandang jabatan khalifah, karena dirinya
tidak mampu menerima tajalli
ilahi secara sempurna, ia hanya dapat
memanifestasikan salah satu dari sifat dasar Tuhan: sifat jamāl (maha indah) ataupun sifat jalāl (maha perkasa). Hal demikian berlainan dengan Adam
a.s., pada diri Adam termanifestasi sifat-sifat jamāl, seperti kasih sayang, santun dan pemurah; dan juga
sifat jalāl, seperti perkasa, menjatuhkan hukuman atas yang
bersalah, dan bangga. Oleh sebab itu ketika Tuhan memerintahkan segenap
malaikat bersujud kepada Adam, maka semuanya bersujud kecuali Iblis. Ia menolak
untuk melakukan sujud karena kesombongannya, sehingga ia termasuk golongan
kafir.[25]Alasan iblis tidak mau sujud karena ia merasa dirinya
lebih baik daripada Adam, ia dijadikan dari api sedangkan Adam dari tanah.[26]
Iblis, kata Ibn ‘Arabi, adalah suatu
makhluk yang paling banyak dipengaruhi oleh daya ilusi (al-quwah al-wahmiyah), sehingga
ia terhalang dari kebenaran karena daya ilusi tersebut. Maka ketika mendapat perintah
dari Tuhan agar melakukan sujud kepada Adam, ia tidak mematuhinya. Iblis
disebut juga jin, yakni suatu kelompok alam gaib yang rendah (al-malākūt as-sufliyah), yang pada mulanya hidup bersama-sama
malaikat-malaikat langit yang suci, tetapi tidak dapat mencapai kebenaran
mutlak karena terhalang oleh kebenaran nisbi, maka ia pun termasuk golongan
kafir.[27]
Di sisi lain, insan kamil dipandang sebagai
orang yang mendapat pengetahuan esoterik yang dikenal dengan pengetahuan
rahasia (‘ilm
al-asrār), ilmu ladunni atau pengetahuan gaib. Pengetahuan
esoterik, pada dasarnya identik dengan pengetahuan Tuhan sendiri. Oleh karena
itu orang yang bisa mencapainya hanyalah orang yang telah menyadari kesatuan
esensialnya dengan Tuhan, dalam hal fanā’ dan baqā’. Jika seseorang telah dapat mengosongkan aql dan qalbnya dari egoisme, keakuan, keangkuhan, dengan
keikhlasan total dan kemudian berusaha keras, dengan menyiapkan diri menjadi
murid memohon Allah mengajarkan kepadanya kebenaran, dan dengan aktif ia
mengikuti aql dan qalbnya merangkaikan berbagai realitas yang hadir dalam
berbagai dimensinya, maka Tuhan hadir membukakan pintu kebenaran dan ia masuk
ke dalamnya, memasuki kebenaran itu, dan ketika ia keluar, maka ia menjadi dan
menyatu dengan kebenaran yang telah dimasukinya.[28] Pengetahuan
esoterik adalah karunia (mawhibat) dari
Tuhan, setelah seseorang menempuh penyucian diri (tazkiyah an-nafs).
Insan kamil juga dipandang sebagai wali
tertinggi, atau disebut juga qutb (poros). Dalam struktur hierarki spiritual sufi, quthb
adalah pemegang pimpinan tertinggi dari para wali. Ia hanya satu orang dalam
setiap zaman. Qutb bisa pula disebut gaws(penolong),
yang termasuk orang yang paling dekat dengan Tuhan, quthb dikitari oleh dua
orang imam yang bertugas sebagai wazirnya. Di samping itu, ada pula empat orang awtād (pilar-pilar), yang bertugas sebagai penjaga empat
penjuru bumi, masing-masing dari empat orang awtād itu
berdomisili di arah timur, barat, utara, dan selatan dari ka’bah. Selain itu,
terdapat tujuh orang abdāl (pengganti-pengganti), yang bertugas mengurus tujuh
benua; dua belas orang nuqabā’ (pemimpin-pemimpin), yang mengatur perjalanan dua
belas bintang; dan masih ada delapan orang nujabā’ (orang-orang yang mulia), hawāriyūn (para penolong), dan rajābiyūn(wali-wali
yang hanya muncul pada bulan Rajab).[29]
Dari kajian di atas dapat dipahami bahwa
insan kamil adalah wadah tajalli Tuhan yang berkedudukan sebagai khalifah dan sebagai
wali tertinggi (qutb). Sebagai wadahtajalli Tuhan ia merupakan
sebab tercipta dan lestarinya alam, dalam kedudukannya sebagai khalifah ia
adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk memanifestasikan kemakmuran, keadilan,
dan kedamaian, dan dalam kedudukannya sebagai quthb, ia adalah sumber
pengetahuan esoterik yang tidak pernah kering.
Kedudukan Norma dalam Insan Kamil
Taklif syarak merupakan norma-norma
keagamaan untuk menata kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan,
sesamanya dan dengan makhluk lain. Kalau aturan-aturan ini dilanggar atau tidak
dilaksanakan sebagaimana mestinya niscaya akan terjadi kekacauan dalam
kehidupan manusia. Pada aspek aksiologis, Tuhan merupakan wujud yang maha baik,
yang menyukai kebaikan, dan ingin menyebarkan kebaikan. Karena itu, ia
memanifestasikan diri-Nya dengan norma, hukum, atau wahyu. Jadi wahyu juga
merupakan salah satu wadah tajalli-Nya. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa syariat yang
merupakan aktualisasi dari wahyu itu mengandung nilai-nilai keilahian.[30]
Untuk mencapai martabat insan kamil,
sufi harus mematuhi aturan-aturan formal keagamaan, yang bersumber dari kitab
suci Alquran dan sunnah Nabi Muhammad saw. Pengetahuan dan tindakan yang tidak
didukung oleh kitab suci dan sunnah Nabi saw. merupakan pengetahuan dan
tindakan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, bahkan
menyesatkan. Oleh sebab itu, jika seseorang memperoleh ilham, dia harus mempertimbangkannya
lebih dahulu atas kriteria kandungan Alquran dan sunnah; jika ilham yang
diperolehnya itu sesuai dengan kandungan Alquran dan sunnah, menandakan ilham
yang didapatnya itu datang dari Allah dan dia boleh melaksanakannya; tetapi
kalau ilham itu tidak sesuai dengan kandungan Alquran dan sunnah dia tidak
boleh mengamalkannya, karena boleh jadi ilham yang demikian bersumber dari
bisikan iblis yang menyusup ke dalam lubuk hatinya.[31]
Semakin tinggi martabat spiritual sufi
bertambah sulit pula jalan yang ditempuh dalam suluknya. Jalan berliku
menanjak, petir menyambar, hujan mengguyur dalam gelap gulita malam sementara
tujuan belum tercapai ditambah godaan setan dari yang kasar sampai yang halus
menghanyutkan, sufi yang sudah kebal dengan rayuan setan kelas teri tentu
diburu oleh setan kelas kakap bahkan the big bos juga turun tangan. Dikisahkan pada suatu ketika Syekh
Abd al-Qadir al-Jilāny melihat cahaya terang, di dalamnya terdapat
penampakan yang memanggil: “Hai Abd al-Qadir, aku tuhanmu, aku halalkan untukmu
segala yang diharamkan! Dia menjawab: “Aku berlindung dengan Allah dari setan
yang dirajam, pergilah hai terkutuk! Padamlah cahaya terang itu, setan yang
mengaku tuhan itu berkata: “Engkau telah selamat dariku dengan hukum Tuhanmu
dan kepahamanmu dalam mempertahankan martabat spiritual. Padahal aku telah
menyesatkan tujuh puluh ahli suluk dengan metode ini. “Dia menjawab: “hanya milik
Tuhanku segala keutamaan dan anugerah.” Syekh ditanya: “Dengan apa engkau
mengerti bahwa penampakan itu setan?” Dia menjawab: “Dengan ucapannya telah
kuhalalkan, untukmu segala yang diharamkan, maka aku segera mengerti
sesungguhnya Allah tidak memerintahkan dengan kejahatan.”[32]
Abu Bakar al-Makky berkata: “Para salik
(penempuh spiritual) harus melakukan syariah, thariqat, dan haqiqah. Syari’ah adalah
perintah-perintah yang diperintahkan Allah dan larangan-larangan yang dilarang
Allah. Thariqah adalah melakukan dan mengamalkan syariah. Haqiqah adalah
memandang bahwa esensi dan penggerak perbuatan adalah Allah. Pernyataan hanya
kepada-Mu aku menyembah merupakan dimensi syariah dengan memandang perbuatan
lahir yang dilakukan hamba, dan pernyataan hanya kepada-Mu aku memohon
pertolongan merupakan dimensi haqiqah karena hamba memfanâ’kan daya upayanya
dengan menyadari segala perbuatan tidak akan terlaksana tanpa bantuan dan
kekuatan Allah.”[33]
Insan kamil sebagai manusia sempurna
tentu mematuhi norma taklif yang dibebankan Allah. Tata laku lahir berupa norma
taklif dirancang Allah untuk kebaikan manusia. Alquran surat al-Bayyinah: 5
menjelaskan:
وَمَا اُمِرُوْا اِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُواالزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
Artinya:
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Qs.
al-Bayyinah: 5)[34]
Pada aspek fikih bersuci atau tahārah merupakan syarat untuk melakukan berbagai ritual
ibadah. Bisa dibayangkan apabila tidak wudu, mandi wajib, apalagi jarang mandi
karena menjalani “laku
garingan” tentu tubuh akan kotor, gatal dan
ibadahpun menjadi tidak nyaman. Puasa Ramadhan yang berupa kewajiban bagi
orang-orang beriman juga memiliki efek positif untuk kesehatan manusia. Demikian
pula awāmir(perintah-perintah) lain selalu menyimpan kemaslahatan
lahir batin manusia. Pada sisi lain nawāhy (larangan-larangan) secara akurat merusak fisik, moral
dan tatanan sosial. Pencurian, korupsi, zina, penganiayaan terhadap makhluk
hidup dan perilaku melanggar norma yang lain tentu merusak tatanan individual
maupun kolektif.
ConversionConversion EmoticonEmoticon